Jumat, 01 November 2013

Skuadron Sukhoi Indonesia





Langit Natuna, Kepulauan Riau,
seperti robek oleh suara keras.
Enam “elang besi” Hawk 100/200
menderu, meliuk-liuk sambil
menjatuhkan bom berbobot
ratusan kilogram. Sasarannya satu
objek di sebuah pulau kecil.
Dari arah lain melintas tiga
pesawat F-16. Empat bom
meluncur ke sasaran.

Tak lama, muncul pula tiga
pesawat Sukhoi SU-27/30. Di tiap
tubuh pesawat garang itu,
tersemat 6 bom yang lalu dilepas
menumbuk sasaran. Bak
kelincahan seekor alap-alap,
Sukhoi terakhir melontarkan
puluhan roket. Sasaran pun
hancur lebur.
Asap membubung tinggi. Tapi
serangan belum berakhir. Sebagai
penutup, tiga pesawat EMB-314
Super Tucano melintas. Bom
kembali berjatuhan.

Di atas sasaran yang remuk redam
itu, melintas tujuh pesawat C-130
Hercules. Ia terbang tenang
dikawal dua Sukhoi 27/30
bersenjata rudal. Dari lambung
pesawat, ratusan personel Pasukan
Khas Angkatan Udara melompat
terjun. Di darat kelak, mereka
bertugas menyapu sisa-sisa musuh
yang menguasai objek vital di
Natuna, wilayah Indonesia yang
berbatasan dengan Laut China
Selatan yang sedang
disengketakan lima negara itu.

Inilah aksi penutup Latihan
Operasi Udara dengan sandi

“Angkasa Yudha 2013” yang digelar
di Pulau Natuna, pada Kamis 31
Oktober 2013 lalu. Kepala Staf
Angkatan Udara Marsekal TNI Ida
Bagus Putu Dunia mengatakan,
latihan ini untuk membina
kemampuan dan kekuatan TNI AU,
agar lebih siap siaga menghadapi
kontijensi.

Yang jadi “bintang” saat itu boleh
dibilang enam Sukhoi yang
terbang dari Lapangan Udara
Hasanuddin di Makassar. Total ada
16 Sukhoi bermarkas di Makassar,
membentuk Skuadron Udara
Tempur 11.
Ini semacam kebangkitan skuadron
tempur wilayah Timur Indonesia
setelah lama kekuatannya bolong.

Pesawat tempur bercat dasar abu-
abu terang bercampur loreng abu-
abu tua ini terdiri atas dua
macam, yakni SU 27 SKM dan
SU30MK2. Pembeda utamanya
adalah SU 27 hanya punya satu
kursi pilot, sementara saudaranya
punya dua kursi pilot.
Saat VIVAnews mendatangi Markas
Skuadron, Kamis 31 Oktober pagi,
tampak hanya 10 Sukhoi terparkir.

Enam lainnya sedang beroperasi di
Natuna. Di kantor dan gedung
teknisi yang berada di samping
pesawat tempur diparkir, tampak
sebuah spanduk besar terpampang
bertuliskan, “Siapkan pesawat
sebaik-baiknya seolah-olah hari ini
ada perang”.

Perang itu memang masih jauh.
Tapi, personel di Skuadron 11
berlatih keras setiap hari, minimal
8 jam. Pesawat diistirahatkan
meski tetap siaga antara Jumat
sampai Minggu saja. Pagi, sebelum
memulai latihan (training air ),
para petugas dan pilot terlebih
dahulu apel siaga. Teknisi sudah
terbagi-bagi ke dalam beberapa
bidang, selalu memastikan
pesawat dalam keadaan siaga
penuh.

Persenjataan terbaru yang
terpasang di pesawat adalah
kombinasi jenis Air to Air to
Ground. Sukhoi bisa menyergap di
udara dengan daya jelajah jauh. Ia
juga mampu serang target di darat
dengan peluru kendali atau bom
pintar. Dia bisa membawa rudal
udara ke udara RVV-AE active radar
homing, rudal udara ke permukaan
KH- 29T(TE), KH-29L, KH-31P,
KH-31A dan bom pintar jenis KAB
500Kr dan KAB-1500Kr.
Yang lebih asyik, Sukhoi SU 27SKM
dan SU30 MK2 ini telah dilengkapi
instrumen isi ulang bahan bakar di
udara. Jadi, kemampuan jelajah
tempurnya kian jauh.

Jelas, kecanggihannya tak kalah
dengan F15 SG milik Singapura
atau Super Hornet milik Australia.
Di udara, bisa ofensif, namun juga
bisa menghancurkan sasaran di
laut dan darat. Sempurna untuk
patroli udara untuk menjaga
kedaulatan wilayah dan
menghancurkan sasaran strategis
musuh.

Minimum Essential Force
Dua di antara 16 Sukhoi di
Makassar ini tiba dari Rusia pada
Rabu malam, 4 September 2013,
genap jadi lima unit Su-27 SKM
dan sebelas unit Su-30 MK.
Pesawat-pesawat tempur ini
diterima dari Pemerintah Rusia/JSC
Rosoboronexport oleh Menteri
Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.
Ini kiriman ketiga tahun ini.

Sukhoi menjadi andalan, karena di
saat alutsista Indonesia mulai
menua di akhir 1990-an, Amerika
Serikat yang menjadi pemasok
utama meng-embargo Indonesia
akibat pelanggaran hak asasi
manusia di zaman orde baru
berkuasa.

Itu sebabnya, saat menjadi
Presiden pada 2001, Megawati
Soekarnoputri melirik Rusia. Negeri
beruang salju itu dipilih sebagai
alternatif mengganti armada yang
menua. Pada 2004, sejumlah
Sukhoi pun mendarat di Lanud
Iswahyudi, Madiun. Megawati pun
seperti mengulang sejarah ketika
ayahnya, Soekarno, membangun
armada udara Indonesia dengan
mengandalkan pesawat-pesawat
tempur buatan Uni Soviet.

Saat perayaan Ulang Tahun TNI
ke-68 di Lapangan Udara Halim
Perdanakusumah, 5 Oktober 2013,
Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono menyatakan kekuatan
alat utama sistem pertahanan
(alutsista) akan meningkat
signifikan hingga akhir tahun
2014. Untuk memodernisasi
alutsista sekaligus meningkatkan
kualitas sistem pertahanan RI,
pemerintah telah menjalin
kerjasama dengan industri
pertahanan di dalam dan luar
negeri, kata Presiden.

Sejumlah negara pada akhir
Oktober lalu membeberkan
kerjasama pertahanannya dengan
Indonesia. Indonesia bekerjasama
dengan negara-negara di kawasan
Asia, Amerika sampai benua Eropa.

Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie
Sjamsoeddin menyatakan,
pengalaman embargo militer AS
atas Indonesia pasca-1998 menjadi
pelajaran untuk tidak
menggantungkan persenjataan
pada satu negara saja. Kekuatan
pertahanan nasional akan
dibangun dengan mengambil
teknologi dari berbagai negara.
Tak lupa, industri strategis dalam
negeri diperkuat, seperti PT
Dirgantara dan PT Pindad.

Kepala Dinas Penerangan TNI
Angkatan Udara, Marsekal Madya
Hadi Tjahjanto, menyatakan,
pembelian pesawat ini dipatok
sampai 2024. Total, ada 102
pesawat yang akan didatangkan,
antara lain 16 unit Sukhoi, 24 unit
F16 dari Amerika Serikat, skuadron
T50 buatan Korea Selatan untuk
menggantikan Hawk buatan AS, 8
unit pesawat latih G120PP buatan
Jerman, 16 unit pesawat Embraer
Supertucano buatan Brasil, 9 unit
CN295 dari Spanyol, 4 unit
Hercules hibah dari Australia dan
sejumlah helikopter Fennec dari
Prancis. “Semua Pesawat ini akan
didatangkan secara bertahap,” kata
Hadi.

Dari Rusia, selain membeli Sukhoi,
Indonesia juga mendatangkan
kendaraan tempur laut dan amfibi,
helikopter serang MI-35, helikopter
serbu MI-17 dan tak lupa, peluru
kendali.
Sjafrie menyatakan, alutsista Rusia
jadi ‘idola’ karena menjawab
kebutuhan minimum essential
force (MEF). ”Yang kedua, harganya
kompatibel. Ketiga adalah dia tak
punya prasyarat politik,” kata
mantan Kepala Pusat Penerangan
TNI itu.

Anggaran modernisasi dan
perawatan alutsista TNI sampai
akhir tahun 2014 ini tercatat Rp 99
triliun, dan Kementerian
Pertahanan masih membutuhkan
tambahan anggaran Rp 57 triliun.
“Kami prioritaskan mencari
alutsista bergerak seperti pesawat
temput dan tank. Sementara
alutsista yang tak bergerak seperti
radar,” kata Menteri Pertahanan
Purnomo Yusgiantoro.

Dengan anggaran sebegitu besar,
Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan,
kekuatan armada udara ini baru
akan mendekati minimum
essential force yang dipatok
sampai 2019. “Bagaimana kita bisa
memiliki kemampuan minimal agar
kita bisa memiliki suatu daya
pukul yang dahsyat dan juga
mobilitas yang tinggi,” kata Sjafrie.
Dari mana duit itu berasal? Angka
lebih dari Rp 150 triliun itu salah
satunya didapatkan dengan
pinjaman luar negeri US$ 6,5
miliar dolar. ”Jadi yang kita
pergunakan kurang lebih 4 miliar
dolar, artinya kurang lebih 41
triliun. Sisanya kita mesti jadikan
semacam cadangan untuk
dipergunakan pada prioritas
kedua. Sekarang prioritas pertama
dulu,” kata Sjafrie.

Lima tahun ke depan, setelah
armada udara tempur nyaris
lengkap, prioritas berikutnya
penambahan Radar. Soal alat ini,
Indonesia memang gawat. Ada
radar yang tidak berfungsi 24 jam.

Tapi sekarang, ”radar untuk
kawasan barat sudah ter-cover,
secara kuantitas. Kemudian
kawasan timur yang kemudian
akan kita isi segera,” kata Sjafrie.
Kadispen TNI AU menambahkan,
rencananya radar ini akan
ditempatkan di Singkawang,
Kalimatan Barat; dan Tambolaka,
Nusa Tenggara Timur. “Dengan
radar ini pesawat asing bisa
dideteksi,” kata Hadi.

Perlu transparansi

Dengan lengkapnya satu skuadron
Sukhoi di pangkalan Makassar,
Indonesia boleh sedikit
sumringah. Tapi Direktur Program
di Research Institute for
Democracy and Peace (Ridep),
Anton Aliabbas, menyatakan
pengadaan Sukhoi perlu dicermati
karena belum teruji.

Kata Anton, Sukhoi memang hebat
secara teknis namun dikenal boros
bahan bakar. Lalu persenjataan
dan amunisi juga belum jelas.
Sehingga, ”kualitas kita belum
tahu,” kata jebolan Defence
Studies Crankfield University,
Inggris, itu.
Anton setuju, hingga 2024,
Indonesia fokus pada penyediaan
alutsista dulu. Baru setelah itu
membangun industrinya sendiri.

Dia melihat ada kebutuhan
memperkuat sistem pertahanan
udara segera. Di Jakarta saja,
misalnya, Anton melihat
penurunan sistem pertahanan
udara.
“Dulu di zaman (Presiden)
Soekarno, kita punya berbagai
terminal rudal di Jakarta. Dulu ada
di Priok dan Tebet. Namun
sekarang tidak ada bekas (terminal
rudal). Sekarang malah jadi
perkampungan penduduk,” kata
Anton.

Tapi di balik kegagahan meliuk di
langit nusantara, pengadaan jet
tempur yang masuk dari bagian
paket proyek alutsista berongkos
total hingga Rp 150 triliun itu
perlu transparansi. Apalagi, kata
dia, untuk jangka menengah, lebih
dari Rp 400 triliun disiapkan
negara guna mempercanggih
senjata.

Anton menilai upaya pemerintah
melengkapi alutsista TNI itu
adalah langkah bagus. Apalagi
pasokannya melibatkan berbagai
negara. Persaingan Rusia, Amerika
Serikat, Korea Selatan, dan China
harus dimanfaatkan untuk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar